Jumat, 07 Februari 2014


SEJARAH KOTA MALANG

A. Masa kerajaan Klasik
Sejarah kota Malang dimulai pada abad VIII, pada jaman ketika kerajaan-kerajaan masih lestari dan Malang adalah salah satu teritorial yang diperebutkan oleh beberapa kerajaan seperti kerajaan Medaeng yang didirikan oleh Empu Sendok. Wilayah Malang juga pernah berada di wilayah kerajaan Kediri dibawah kekuasaan Sri Baginda Kretajaya antara 1188-1222.
Salah satu cerita paling terkenal adalah tentang kekuasaan teritorial yang dipegang oleh Akuwu Tunggul Ametung yang ditunjuk langsung oleh Kretajaya dari kerajaan Kediri.
Pada masa tersebut, Tunggul Ametung yang banyak memerintah dengan kurang baik, mengambil putri seorang Brahmana yang bernama Ken Dedes, yang menimbulkan ketidak setujuan dari kalangan Hindu, sehingga banyak muncul perlawanan. Ken Arok adalah salah seorang yang tidak menyukai kenyataan tersebut, dan dia sendiri adalah seorang pemuda yang berani meskipun tidak memiliki banyak kekuasaan. Sifatnya yang ksatria dibina oleh seseorang yang bernama Bango Samparan. Dengan sifat ini pula dia mendapatkan banyak pengikut.
Pada suatu saat yang dirasa tepat, Ken Arok melakukan perlawanan dan kudeta terhadap Tunggul Ametung. Salah satu alasan mengapa dia melakukan kudeta adalah karena juga tertarik dengan Ken Dedes.
Dengan dibantu oleh pengikutnya yang setia, Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung dengan keris Empu Gandring. Kudeta ini membebaskan rakyat dari pemerintahan Tunggul ametung yang menindas. Ini adalah salah satu cerita kudeta pertama kali terjadi di Nusantara dan merupakan salah satu cerita terhebat.
Ken Arok langsung naik tahta menggantikan Tunggul Ametung dengan kerajaan baru yaitu Tumapel, serta mengambil Ken Dedes sebagai permaisurinya. Tumapel berusaha melepaskan diri dari kerajaan Kediri dan kemudian berperang melawan kerajaan yang sebelumnya menguasai teritorial Malang ini. Hebatnya, perlawanan ini berhasil sehingga Ken Arok berhasil mengalahkan Kediri dan menjadi kekuatan baru kerajaan Tumapel dengan pusat di Singosari.
Ken Arok dan Ken Dedes memiliki anak yaitu Mahisa Wong Ateleng, yang memiliki cicit bernama Raden Wijaya, yang membangun kerajaan baru yaitu kerajaan Majapahit.
Majapahit adalah kerajaan yang sangat besar dan memiliki armada maritim yang sangat tangguh dan kerajaan tersebut bisa dibandingkan dengan kerajaan Romawi di Eropa.
B. Masa penjajahan dan pembebasan
Kota Malang diresmikan menjadi Kota Madya (kota tingkat menengah) oleh para Londo pada tanggal 1 April 1914 melalui Staadsblad no. 297, dikepalai oleh seorang walikota.
Sebenarnya bukan hanya hal negatif yang dibawa penjajah Belanda, namun juga hal positif seperti pembangunan gedung-gedung dan perencanaan kota yang baik. Belanda bahkan melihat potensi kota Malang sebagai kota wisata, dengan membangun bangunan-bangunan pendukung wisata, misalnya di Selecta sekarang.
Pada awalnya, Malang tidak berdiri sendiri sebagai sebuah kota, tetapi berada dibawah Karesidenan Pasuruan. Setelah Kodya Malang terbentuk, Walikota dipilih pada 1919 yang adalah seorang arsitek Belanda.
Sebelumnya, terjadi perjuangan sengit melawan pendudukan Belanda pada 1722 namun Belanda menang dan mengibarkan benderanya di kota Malang. Belanda juga membangun Loji (benteng) yang berlokasi di RSU Syaiful Anwar Malang. Kata Loji juga disebut ‘ke-lojian’ yang menjadi awal sebutan ‘Klojen’.
Belanda memandang kota Malang sangat baik untuk dijadikan kota peristirahatan dengan berbagai fasilitas seperti area hiburan, misalnya gedung di lokasi Sarinah Plasa jaman dulu adalah lokasi hiburan bagi para Londo.
Tata kota Malang juga sangat baik mengadopsi konsep kota taman dan wisata, kita masih bisa melihat hasilnya adalah Jalan Ijen, dimana tipe rumah-rumahnya adalah rumah vila.
Belanda juga membangun berbagai rumah ibadah, atau setidaknya memberikan kesempatan pembangunan gereja dan masjid di sekitar alun-alun kota.
Pada tahun 1914, Malang menjadi ‘Kota Madya’ (Gemeente) atau kota skala sedang. Pada 1942, Jepang datang dan menduduki Malang, merampas bangunan dan tanah untuk kepentingan invasi mereka. Jepang juga memaksa rakyat jelata untuk bekerja rodi membangun pangkalan-pangkalan militer.
Setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, Jepang mengaku kalah dan menyerah. Mereka meninggalkan Malang pada tahun 1945 dan Malang menjadi bagian Republik Indonesia yang telah merdeka.
Malang juga mengecap agresi militer Belanda untuk merebut kembali tanah jajahannya. Namun rakyat Malang berusaha mati-matian untuk mempertahankan tanah kelahirannya ini. Dan Malang tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia, melalui sejarah perjuangan yang panjang.
Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Hindia Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda.
Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, Misalnya Ijen Boullevard dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai.
Kawasan perumahan itu sekarang bagai monumen yang menyimpan misteri dan seringkali mengundang keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim disana untuk bernostalgia.
Pada tahun 1879, di kota Malang mulai beroperasi kereta api dan sejak itu kota Malang berkembang dengan pesatnya. Berbagai kebutuhan masyarakat pun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.
Sejalan perkembangan tersebut di atas, urbanisasi terus berlangsung dan kebutuhan masyarakat akan perumahan meningkat di luar kemampuan pemerintah, sementara tingkat ekonomi urbanis sangat terbatas, yang selanjutnya akan berakibat timbulnya perumahan-perumahan liar yang pada umumnya berkembang di sekitar daerah perdagangan, di sepanjang jalur hijau, sekitar sungai, rel kereta api dan lahan-lahan yang dianggap tidak bertuan. Selang beberapa lama kemudian daerah itu menjadi perkampungan, dan degradasi kualitas lingkungan hidup mulai terjadi dengan segala dampak bawaannya. Gejala-gejala itu cenderung terus meningkat, dan sulit dibayangkan apa yang terjadi seandainya masalah itu diabaikan.
Pembagian administratif, Kota Malang terdiri atas 5 kecamatan, yaitu:
* Kedungkandang
* Sukun
* Klojen
* Blimbing

Sumber : http://nawakewed.wordpress.com/berita-seputar-kota-malang/


Sejarah Nama “Malang” Kota Malang (Zaman Kerajaan s/d Belanda)

Malang Nominor, Sursum Moveor yang memiliki arti Malang Namaku, Maju Tujuanku; merupakan rangkaian kata yang menjadi semboyan Malang tempo doeloe.
Hal ini tak terlepas dari peranan wilayah Malang yang sangat penting di masa lalu. Terutama di masa penjajahan. Tak sedikit peninggalan masa itu yang tersisa. Tidak sedikit pula peninggalan bersejarah yang telah raib atau telah beralih fungsi. Sebagai contoh, gedung Concordia yang terletak di alun-alun kota, sekarang berubah fungsi menjadi salah satu pusat perbelanjaan bernama Sarinah. Di depan gedung ini telah dibangun monumen untuk mengenang “peranan” tersebut di masa lalu.
Semboyan ini mengisyaratkan mengacu pada makna kata malang sebagai nasib yang kurang baik, hal ini bisa dilihat dari kata setelah Malang Namaku yaitu kalimat Maju Tujuanku.
Kalimat kedua ini merupakan kalimat yang menegasi kalimat yang pertama. Kata malang dapat diartikan dalam bermacam-macam arti kata, mulai dari :
* malang = nasib yang kurang beruntung
* malang = menghalangi /membentang (basa jawa)
* malang = nama yang diberikan oleh pasukan Sultan Demak ketika mencoba menyerang untuk memperluaskan daerah kekuasaan. Kata ini berasal dari istilah malang-melintang.
* malang = Tuhan menghancurkan yang bathil dan menegakkan yang baik. Kata ini berasal dari istilah Malang Kucecwara.
Tapi jangan salah,Nama Malang ternyata memiliki nilai historis yang cukup tinggi. Dibawah ini merupakan sejarah kota kita tercinta ini dinamakan Malang.
Nama Batara Malangkucecwara disebutkan dalam Piagam Kedu (tahun 907) dan Piagam Singhasari (tahun 908). Diceritakan bahwa para pemegang piagam adalah pemuja Batara (Dewa) Malangkucecwara, Puteswara (Putikecwara menurut Piagam Dinoyo), Kutusan, Cilahedecwara dan Tulecwara. Menurut para ahli diantaranya Bosch, Krom dan Stein Calleneis, nama Batara tersebut sesungguhnya adalah nama Raja setempat yang telah wafat, dimakamkan dalam Candi Malangkucecwara yang kemudian dipuja oleh pengikutnya, hal ini sesuai dengan kultus Dewa – Raja dalam agama Ciwa.
Nama para Batara tersebut sangat dekat dengan nama Kota Malang saat ini, mengingat nama daerah lain juga berkaitan dengan peninggalan di daerah tersebut misalnya Desa Badut (Candi Badut), Singosari (Candi Singosari). Dalam Kitab Pararaton juga diceritakan keeratan hubungan antara nama tempat saat ini dengan nama tempat di masa lalu misalnya Palandit (kini Wendit) yang merupakan pusat mandala atau perguruan agama. Kegiatan agama di Wendit adalah salah satu dari segitiga pusat kegiatan Kutaraja pada masa Ken Arok (Singosari – Kegenengan – Kidal – Jago : semuanya berupa candi).
Pusat mandala disebut sebagai panepen (tempat menyepi) salah satunya disebut Kabalon (Kebalen di masa kini). Letak Kebalen kini yang berada di tepi sungai Brantas sesuai dengan kisah dalam Pararaton yang menyebut mandala Kabalon dekat dengan sungai. Disekitar daerah Kebalen – Kuto Bedah – DAS Brantas banyak dijumpai gua buatan manusia yang hingga kini masih dipakai sebagai tempat menyepi oleh pengikut mistik dan kepercayaan. Bukti lain kedekatan nama tempat ini adalah nama daerah Turyanpada kini Turen, Lulumbang kini Lumbangsari, Warigadya kini Wagir, Karuman kini Kauman.
Pararaton ditulis pada tahun 1481 atau 250 tahun sesudah masa Kerajaan Singosari menggunakan bahasa Jawa Pertengahan dan bukan lagi bahasa Jawa Kuno sehingga diragukan sebagai sumber sejarah yang menyangkut pemerintahan dan politik. Penulisan Pararaton sudah . Namun pendekatan yang dipakai para ahli dalam menyelidiki asal usul nama Kota Malang didasarkan pada asumsi bahwa nama tempat tidak akan jauh berubah dalam kurun waktu tersebut. Hal ini bisa dibuktikan antara lain dari nama Kabalon (tempat menyepi) ternyata juga disebutkan dalam Negara Kertagama. Dalam kitab tersebut dikisahkan bahwa puteri mahkota Hayam Wuruk yaitu Kusumawardhani (Bhre Lasem) sebelum menggantikan ayahnya terlebih dahulu menyepi di di Kabalon dekat makam leluhurnya yaitu Ken Arok atau Rangga Rajasa alias Cri Amurwabumi. Makam Ken Arok tersebut adalah Candi Kegenengan. Namun istilah Kabalon hanya dikenal dikalangan bangsawan, hal inilah yang menyebabkan istilah Kabalon tidak berkembang. Rakyat pada masa itu tetap menyebut dan mengenal daerah petilasan Malangkucecwara dengan nama Malang hingga diwariskan pada masa sekarang.
Berikut adalah beberapa gambar/foto wilayah Malang pada masa lalu (diambil dari beberapa sumber).
Pasar Petjinan
Inilah cikal bakal pusat pasar di kota Malang, Pasar Petjinan namanya. Untuk masa sekarang, nama ini lebih dikenal dengan sebutan Pasar Besar atau Pasar Gede, atau “Rasap Edeg” (bahasa walikan/Malangan-nya). Segala kebutuhan sandang pangan berada di pasar ini. Keberadaan pusat pasar (tradisional) di Malang ini telah mengalami perubahan yang besar. Dari gambar disamping tampak dua menara kembar berdiri di depan pasar. Namun untuk saat ini, kedua menara tersebut dan keberadaan lapak2 di belakang menara tersebut telah “dihancurkan”, dan dibangunlah satu komplek gedung bersusun yang sangat besar. Rupanya fungsi pasar pecinan dari dulu sampai sekarang masih tetap sama, dan akan selalu dikenal dengan nama Pasar Besarnya…
Zwembad
Adalah kolam renang yang sangat terkenal di Malang. Karena pengucapan lidah orang Indonesia yang sulit dalam pengucapan kata “zwembad” maka pengucapan tempat ini lebih “difamiliarkan” dengan sebutan “Slembat”. Pengucapan yang akhirnya bisa diterima oleh masyarakat, sampai saat ini. Kolam renang ini terletak di kompleks olahraga Stadion Gajayana. Dan sekarang telah direnovasi menjadi kompleks olahraga, bisnis, hotel (dalam satu kawasan). Yang pasti, “wajah asli” kolam renang warisan kolonialpun dipastikan akan berubah/hilang sama sekali. Satu lagi, peninggalan sejarah yang diubah demi kepentingan golongan tertentu…
Batu
Orang-orang Malang pasti tahu wilayah Batu ini. Beberapa tahun yang lalu, wilayah ini adalah bagian dari Malang. Namun sekarang statusnya sudah “naik”, menjadi kota sendiri, yang mempunyai otoritas sendiri yang terlepas dari Malang. Batu, memang lebih dikenal dengan tempatnya yang dingin (sebagai tempat peristirahatan/wisata ==> dan terdapat beberapa air terjun sebagai tujuan wisata) dan penghasil buah apel yang sangat terkenal.  Gambar disamping merupakan salah satu tempat di Batu (yang saya tidak tahu persis di daerah mana tepatnya). Yang menunjukkan adanya semacam perayaan tertentu di sebuah lapangan. Perkiraan lapangan tersebut adalah alun-alun kota Batu (sekarang).
Sedangkan gambar di samping ini adalah salah satu restoran yang terdapat di wilayah Batu (menurut keterangan foto). Batu masih dalam wilayah Malang. Itu dapat dilihat dari logo yang terdapat di atas atap gedung restoran itu. Tidak diketahui, ini di daerah Batu sebelah mana, dan gambar ini diambil pada bulan Juli 1948.
.
Militair Hospitaal Malang Soekoen
Diperkirakan, berdasarkan nama dan tempatnya, tempat ini sekarang dikenal dengan nama Rumah Sakit Tentara Soepraoen, yang terletak di wilayah Sukun, Malang. Memang, rumah sakit ini diperuntukkan bagi anggota militer dan keluarga. Tapi tidak menutup kemungkinan bagi yang non militer. Beberapa bagian bangunan masih bercirikan peninggalan kolonial sampai sekarang tetap dipertahankan. Sehingga jika kita memasuki beberapa bagian gedung, serasa memasuki dunia masa lampau…
R.K.A.L.S. Sancta Maria
Nama yang tertulis di tembok bangunan itu kalau di Malang (sekarang) identik dengan nama sebuah sekolah swasta yang terletak di Jl. Raya Langsep. Sekolah itu sekarang dikenal dengan nama Santa Maria. Itu menunjukkan, bahwa sekolah itu memang benar2 peninggalan masa kolonial, dan sampai sekarang masih tetap berdiri.
De Mohamedaanse Kerk
Tampaknya, bangunan di samping ini merupakan tempat peribadatan umat Islam. Dilihat dari ukuran bangunan tersebut, kelihatannya bangunan tersebut berupa langgar/musholla. Namun tidak diketahui berada dimana tepatnya musholla tersebut sekarang, semisal ngerti dimana mushola ini, bakal tak tekani, sholat nang kono ayas……
Gaya Muda Masa Lalu…
Inilah gambar gaya muda masa kolonial yang sedang berpose di tugu (balaikota sekarang). Seng kodew iku mbahku ker pas sek enom2e biyen, mbayangno ayas seng mbois koyok ngene iki, mesti mbahku biyen juga mesti mbois lek’e?wahahahaha…….. Lihat model pakaiannya! Sangat “jadul” ilakes. Hehehee……………apalagi yang cowok itu, modelnya kayak tentara aja…….
Djalan Besar Idjen 1950
Kawasan Jl. Besar Ijen tahun 1950. Mirip nggak dengan yang sekarang?? yang menjadi lokasi Festival Malang Kembali mulai tahun 2006 s/d saat ini…Poto iki pas mbahku kate golek hamur nang kawasan kono, iki poto2 pas mubeng2 karo developer  perumahan Idjen jaman dulu……..lha hamurku seng pas paling pojok’an iku. Mampir ker! tak suguhi ipok brontoseno……..
Salah satu sudut jalan menuju Sukun
Salah satu sudut jalan menuju Sukun, Malang, yang sekarang telah mengalami banyak perubahan. Iki pas mbahku uklam2 nggawe adepes onthel Gazelle biyen……….sek ono tah saiki seng duwe sepeda unto/kebo merk gazelle?
Kalo menurut kacamata penglihatan ayas, logo kota Malang jaman dulu seperti yang ada di atas itu mirip dengan logo milik klub bola senengane ayas juga, Chelsea. Oyi gak? Mirip 

Sumber :
http://junedoyisam.wordpress.com/2011/08/16/sejarah-nama-malang-kota-malang-zaman-kerajaan-sd-belanda/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar