SEJARAH KOTA MALANG
A. Masa kerajaan Klasik
Sejarah kota Malang dimulai pada abad VIII, pada jaman ketika kerajaan-kerajaan masih lestari dan Malang adalah salah satu teritorial yang diperebutkan oleh beberapa kerajaan seperti kerajaan Medaeng yang didirikan oleh Empu Sendok. Wilayah Malang juga pernah berada di wilayah kerajaan Kediri dibawah kekuasaan Sri Baginda Kretajaya antara 1188-1222.
Salah satu cerita paling terkenal adalah tentang kekuasaan teritorial yang dipegang oleh Akuwu Tunggul Ametung yang ditunjuk langsung oleh Kretajaya dari kerajaan Kediri.
Pada masa tersebut, Tunggul Ametung yang banyak memerintah dengan kurang baik, mengambil putri seorang Brahmana yang bernama Ken Dedes, yang menimbulkan ketidak setujuan dari kalangan Hindu, sehingga banyak muncul perlawanan. Ken Arok adalah salah seorang yang tidak menyukai kenyataan tersebut, dan dia sendiri adalah seorang pemuda yang berani meskipun tidak memiliki banyak kekuasaan. Sifatnya yang ksatria dibina oleh seseorang yang bernama Bango Samparan. Dengan sifat ini pula dia mendapatkan banyak pengikut.
Pada suatu saat yang dirasa tepat, Ken Arok melakukan perlawanan dan kudeta terhadap Tunggul Ametung. Salah satu alasan mengapa dia melakukan kudeta adalah karena juga tertarik dengan Ken Dedes.
Dengan dibantu oleh pengikutnya yang setia, Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung dengan keris Empu Gandring. Kudeta ini membebaskan rakyat dari pemerintahan Tunggul ametung yang menindas. Ini adalah salah satu cerita kudeta pertama kali terjadi di Nusantara dan merupakan salah satu cerita terhebat.
Ken Arok langsung naik tahta menggantikan Tunggul Ametung dengan kerajaan baru yaitu Tumapel, serta mengambil Ken Dedes sebagai permaisurinya. Tumapel berusaha melepaskan diri dari kerajaan Kediri dan kemudian berperang melawan kerajaan yang sebelumnya menguasai teritorial Malang ini. Hebatnya, perlawanan ini berhasil sehingga Ken Arok berhasil mengalahkan Kediri dan menjadi kekuatan baru kerajaan Tumapel dengan pusat di Singosari.
Ken Arok dan Ken Dedes memiliki anak yaitu Mahisa Wong Ateleng, yang memiliki cicit bernama Raden Wijaya, yang membangun kerajaan baru yaitu kerajaan Majapahit.
Majapahit adalah kerajaan yang sangat besar dan memiliki armada maritim yang sangat tangguh dan kerajaan tersebut bisa dibandingkan dengan kerajaan Romawi di Eropa.
B. Masa penjajahan dan pembebasan
Kota Malang diresmikan menjadi Kota Madya (kota tingkat menengah) oleh para Londo pada tanggal 1 April 1914 melalui Staadsblad no. 297, dikepalai oleh seorang walikota.
Sebenarnya bukan hanya hal negatif yang dibawa penjajah Belanda, namun juga hal positif seperti pembangunan gedung-gedung dan perencanaan kota yang baik. Belanda bahkan melihat potensi kota Malang sebagai kota wisata, dengan membangun bangunan-bangunan pendukung wisata, misalnya di Selecta sekarang.
Pada awalnya, Malang tidak berdiri sendiri sebagai sebuah kota, tetapi berada dibawah Karesidenan Pasuruan. Setelah Kodya Malang terbentuk, Walikota dipilih pada 1919 yang adalah seorang arsitek Belanda.
Sebelumnya, terjadi perjuangan sengit melawan pendudukan Belanda pada 1722 namun Belanda menang dan mengibarkan benderanya di kota Malang. Belanda juga membangun Loji (benteng) yang berlokasi di RSU Syaiful Anwar Malang. Kata Loji juga disebut ‘ke-lojian’ yang menjadi awal sebutan ‘Klojen’.
Belanda memandang kota Malang sangat baik untuk dijadikan kota peristirahatan dengan berbagai fasilitas seperti area hiburan, misalnya gedung di lokasi Sarinah Plasa jaman dulu adalah lokasi hiburan bagi para Londo.
Tata kota Malang juga sangat baik mengadopsi konsep kota taman dan wisata, kita masih bisa melihat hasilnya adalah Jalan Ijen, dimana tipe rumah-rumahnya adalah rumah vila.
Belanda juga membangun berbagai rumah ibadah, atau setidaknya memberikan kesempatan pembangunan gereja dan masjid di sekitar alun-alun kota.
Pada tahun 1914, Malang menjadi ‘Kota Madya’ (Gemeente) atau kota skala sedang. Pada 1942, Jepang datang dan menduduki Malang, merampas bangunan dan tanah untuk kepentingan invasi mereka. Jepang juga memaksa rakyat jelata untuk bekerja rodi membangun pangkalan-pangkalan militer.
Setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, Jepang mengaku kalah dan menyerah. Mereka meninggalkan Malang pada tahun 1945 dan Malang menjadi bagian Republik Indonesia yang telah merdeka.
Malang juga mengecap agresi militer Belanda untuk merebut kembali tanah jajahannya. Namun rakyat Malang berusaha mati-matian untuk mempertahankan tanah kelahirannya ini. Dan Malang tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia, melalui sejarah perjuangan yang panjang.
Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Hindia Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda.
Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, Misalnya Ijen Boullevard dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai.
Kawasan perumahan itu sekarang bagai monumen yang menyimpan misteri dan seringkali mengundang keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim disana untuk bernostalgia.
Pada tahun 1879, di kota Malang mulai beroperasi kereta api dan sejak itu kota Malang berkembang dengan pesatnya. Berbagai kebutuhan masyarakat pun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.
Sejalan perkembangan tersebut di atas, urbanisasi terus berlangsung dan kebutuhan masyarakat akan perumahan meningkat di luar kemampuan pemerintah, sementara tingkat ekonomi urbanis sangat terbatas, yang selanjutnya akan berakibat timbulnya perumahan-perumahan liar yang pada umumnya berkembang di sekitar daerah perdagangan, di sepanjang jalur hijau, sekitar sungai, rel kereta api dan lahan-lahan yang dianggap tidak bertuan. Selang beberapa lama kemudian daerah itu menjadi perkampungan, dan degradasi kualitas lingkungan hidup mulai terjadi dengan segala dampak bawaannya. Gejala-gejala itu cenderung terus meningkat, dan sulit dibayangkan apa yang terjadi seandainya masalah itu diabaikan.
Pembagian administratif, Kota Malang terdiri atas 5 kecamatan, yaitu:
* Kedungkandang
* Sukun
* Klojen
* Blimbing
Sumber : http://nawakewed.wordpress.com/berita-seputar-kota-malang/
Sumber :
http://junedoyisam.wordpress.com/2011/08/16/sejarah-nama-malang-kota-malang-zaman-kerajaan-sd-belanda/
Sejarah kota Malang dimulai pada abad VIII, pada jaman ketika kerajaan-kerajaan masih lestari dan Malang adalah salah satu teritorial yang diperebutkan oleh beberapa kerajaan seperti kerajaan Medaeng yang didirikan oleh Empu Sendok. Wilayah Malang juga pernah berada di wilayah kerajaan Kediri dibawah kekuasaan Sri Baginda Kretajaya antara 1188-1222.
Salah satu cerita paling terkenal adalah tentang kekuasaan teritorial yang dipegang oleh Akuwu Tunggul Ametung yang ditunjuk langsung oleh Kretajaya dari kerajaan Kediri.
Pada masa tersebut, Tunggul Ametung yang banyak memerintah dengan kurang baik, mengambil putri seorang Brahmana yang bernama Ken Dedes, yang menimbulkan ketidak setujuan dari kalangan Hindu, sehingga banyak muncul perlawanan. Ken Arok adalah salah seorang yang tidak menyukai kenyataan tersebut, dan dia sendiri adalah seorang pemuda yang berani meskipun tidak memiliki banyak kekuasaan. Sifatnya yang ksatria dibina oleh seseorang yang bernama Bango Samparan. Dengan sifat ini pula dia mendapatkan banyak pengikut.
Pada suatu saat yang dirasa tepat, Ken Arok melakukan perlawanan dan kudeta terhadap Tunggul Ametung. Salah satu alasan mengapa dia melakukan kudeta adalah karena juga tertarik dengan Ken Dedes.
Dengan dibantu oleh pengikutnya yang setia, Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung dengan keris Empu Gandring. Kudeta ini membebaskan rakyat dari pemerintahan Tunggul ametung yang menindas. Ini adalah salah satu cerita kudeta pertama kali terjadi di Nusantara dan merupakan salah satu cerita terhebat.
Ken Arok langsung naik tahta menggantikan Tunggul Ametung dengan kerajaan baru yaitu Tumapel, serta mengambil Ken Dedes sebagai permaisurinya. Tumapel berusaha melepaskan diri dari kerajaan Kediri dan kemudian berperang melawan kerajaan yang sebelumnya menguasai teritorial Malang ini. Hebatnya, perlawanan ini berhasil sehingga Ken Arok berhasil mengalahkan Kediri dan menjadi kekuatan baru kerajaan Tumapel dengan pusat di Singosari.
Ken Arok dan Ken Dedes memiliki anak yaitu Mahisa Wong Ateleng, yang memiliki cicit bernama Raden Wijaya, yang membangun kerajaan baru yaitu kerajaan Majapahit.
Majapahit adalah kerajaan yang sangat besar dan memiliki armada maritim yang sangat tangguh dan kerajaan tersebut bisa dibandingkan dengan kerajaan Romawi di Eropa.
B. Masa penjajahan dan pembebasan
Kota Malang diresmikan menjadi Kota Madya (kota tingkat menengah) oleh para Londo pada tanggal 1 April 1914 melalui Staadsblad no. 297, dikepalai oleh seorang walikota.
Sebenarnya bukan hanya hal negatif yang dibawa penjajah Belanda, namun juga hal positif seperti pembangunan gedung-gedung dan perencanaan kota yang baik. Belanda bahkan melihat potensi kota Malang sebagai kota wisata, dengan membangun bangunan-bangunan pendukung wisata, misalnya di Selecta sekarang.
Pada awalnya, Malang tidak berdiri sendiri sebagai sebuah kota, tetapi berada dibawah Karesidenan Pasuruan. Setelah Kodya Malang terbentuk, Walikota dipilih pada 1919 yang adalah seorang arsitek Belanda.
Sebelumnya, terjadi perjuangan sengit melawan pendudukan Belanda pada 1722 namun Belanda menang dan mengibarkan benderanya di kota Malang. Belanda juga membangun Loji (benteng) yang berlokasi di RSU Syaiful Anwar Malang. Kata Loji juga disebut ‘ke-lojian’ yang menjadi awal sebutan ‘Klojen’.
Belanda memandang kota Malang sangat baik untuk dijadikan kota peristirahatan dengan berbagai fasilitas seperti area hiburan, misalnya gedung di lokasi Sarinah Plasa jaman dulu adalah lokasi hiburan bagi para Londo.
Tata kota Malang juga sangat baik mengadopsi konsep kota taman dan wisata, kita masih bisa melihat hasilnya adalah Jalan Ijen, dimana tipe rumah-rumahnya adalah rumah vila.
Belanda juga membangun berbagai rumah ibadah, atau setidaknya memberikan kesempatan pembangunan gereja dan masjid di sekitar alun-alun kota.
Pada tahun 1914, Malang menjadi ‘Kota Madya’ (Gemeente) atau kota skala sedang. Pada 1942, Jepang datang dan menduduki Malang, merampas bangunan dan tanah untuk kepentingan invasi mereka. Jepang juga memaksa rakyat jelata untuk bekerja rodi membangun pangkalan-pangkalan militer.
Setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, Jepang mengaku kalah dan menyerah. Mereka meninggalkan Malang pada tahun 1945 dan Malang menjadi bagian Republik Indonesia yang telah merdeka.
Malang juga mengecap agresi militer Belanda untuk merebut kembali tanah jajahannya. Namun rakyat Malang berusaha mati-matian untuk mempertahankan tanah kelahirannya ini. Dan Malang tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia, melalui sejarah perjuangan yang panjang.
Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Hindia Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda.
Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, Misalnya Ijen Boullevard dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai.
Kawasan perumahan itu sekarang bagai monumen yang menyimpan misteri dan seringkali mengundang keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim disana untuk bernostalgia.
Pada tahun 1879, di kota Malang mulai beroperasi kereta api dan sejak itu kota Malang berkembang dengan pesatnya. Berbagai kebutuhan masyarakat pun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.
Sejalan perkembangan tersebut di atas, urbanisasi terus berlangsung dan kebutuhan masyarakat akan perumahan meningkat di luar kemampuan pemerintah, sementara tingkat ekonomi urbanis sangat terbatas, yang selanjutnya akan berakibat timbulnya perumahan-perumahan liar yang pada umumnya berkembang di sekitar daerah perdagangan, di sepanjang jalur hijau, sekitar sungai, rel kereta api dan lahan-lahan yang dianggap tidak bertuan. Selang beberapa lama kemudian daerah itu menjadi perkampungan, dan degradasi kualitas lingkungan hidup mulai terjadi dengan segala dampak bawaannya. Gejala-gejala itu cenderung terus meningkat, dan sulit dibayangkan apa yang terjadi seandainya masalah itu diabaikan.
Pembagian administratif, Kota Malang terdiri atas 5 kecamatan, yaitu:
* Kedungkandang
* Sukun
* Klojen
* Blimbing
Sumber : http://nawakewed.wordpress.com/berita-seputar-kota-malang/
Sejarah Nama “Malang” Kota Malang (Zaman Kerajaan s/d Belanda)
Sumber :
http://junedoyisam.wordpress.com/2011/08/16/sejarah-nama-malang-kota-malang-zaman-kerajaan-sd-belanda/











Tidak ada komentar:
Posting Komentar